Assalamualaikum,
Marhaban Ya Ramadhan……Selamat Datang bulan penuh berkah, selamat datang bulan penuh ampunan. Syukur yang tak terjabar atas nikmat bertemu kembali dengan bulan penuh rahmah ini.
Ramadhan yang mulia telah memasuki hari ketiga, banyak sekali hal yang telah kita lewati dan hadapi baik dengan pemikiran ataupun tanpa pemikiran di lajunya detik Ramadhan. Mari kita isi hari-hari Ramadhan kita dengan lebih bertawakal dan bersyukur atas nikmat dan ampunan yang tak pernah terhenti dari Allah SWT.
Sebenarnya apakah maksud adanya Ramadhan ini? Ramadhan ada agar para manusia beristighfar dan bertaubat atas kesalahan dan kekhilafan yang telah terurai dalam 11 bulan sebelumnya. Datangnya Ramadhan agar kita kembali mawas diri dan menahan diri untuk semua ujian dan cobaan yang di berikan Pencipta kita.
Ujian dan Cobaan ini bukan hanya dalam bentuk kesusahan namun rezeki dan kebahagiaan kita itupun merupakan ujian dan cobaan dari Allah SWT. Ada diantara kita yang tak sanggup menghadapi ujian itu dan boleh jadi ada pula diantara kita yang tegar menghadapinya.
Al-Qur’an mengajarkan kita untuk berdo’a: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya…”(QS 2: 286).
Do’a tersebut lahir dari sebuah kepercayaan bahwa setiap derap kehidupan kita merupakan cobaan dari Allah SWT. Kita tak mampu menghindar dari ujian dan cobaan tersebut, yang bisa kita pinta adalah agar cobaan tersebut sanggup kita jalani.
Dalam Bulan Ramadhan ini yang paling sering kita hadapi bagaimana menyikapi ujian dan beban bukan dengan kemarahan, kemarahan itu berdampak buruk pada berkurangnya nilai puasa kita serta dampak kesedihan untuk orang lain.
Sebenarnya, mengapa kita marah?, Menurut Charles Spielberger PhD, seorang psikolog spesialis dalam studi tentang kemarahan, kemarahan adalah keadaan emosional yang intensitasnya bervariasi dari iritasi ringan hingga kemarahan yang intens dan balas dendam. Seperti halnya emosi yang lain, rasa marah dibarengi perubahan-perubahan biologis dan fisiologis, seperti detak jantung, tekanan darah, dan hormonal.
Rasa marah bisa disebabkan baik oleh peristiwa eksternal maupun internal. Anda bisa marah karena ulah atasan atau bawahan Anda, atau karena suatu kejadian tertentu seperti kemacetan lalu lintas, namun bisa juga disebabkan problem yang ada dalam diri Anda sendiri, masa lalu Anda atau pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan lainnya yang terekam dalam ingatan, sehingga dapat memicu kemarahan pada suatu saat tertentu, tanpa peristiwa eksternal yang signifikan.
Berikut ini adalah beberapa ekspresi kemarahan yang berbeda pada beberapa orang, diantaranyanya?
● Eksplosif ●
Hal ini biasanya ditandai dengan rasa marah yang disertai teriakan keras, melempar barang atau membanting pintu. Bukan hanya anak kecil yang mengalaminya, banyak orang dewasa yang mengungkap amarahnya dengan cara meledak-ledak. Luapan emosi yang eskplosif bisa terjadi karena adrenalin yang menyala, dan Anda bisa jadi ‘menikmati’ kondisi tersebut. Jika tidak diatasi, emosi justru makin tinggi dan bisa membuat Anda makin marah, dan melakukan hal merugikan.
Cara mengatasi : Menurut Ronald Potter-Efron, Ph.D, seorang psikiater, seperti dikutip dari Real Simple, penelitian menunjukkan respon kemarahan secara neurologis, kurang dari dua detik. Jika tidak segera dikontrol, bisa meledak. Cobalah untuk menghitung hingga 10 hitungan saat rasa marah muncul. Dalam jeda waktu tersebut kontrol emosi Anda. Lalu, daripada meluapkan rasa marah dengan cara eksplosif, lebih baik ungkapkan dengan kata-kata pada orang yang memicu kemarahan Anda, seperti “saya sangat kecewa kamu melakukan itu”.
Continue reading →
0.000000
0.000000
Tags: Al-Hadist, Al-Quran, cobaan, maaf, marah, orang biasa, RAMADHAN, sabar, ujian
Kata mereka: